Smart Parenting Tips: Berbicara dalam Situasi Darurat & Panik pada Anak

Share Icon Facebook Twitter Pinterest
1041 views Jan 15, 2016
   

Disadur dari artikel-artikel oleh Ellen Hendriksen, PhD, Savvy Psychologist dan ditulis ulang oleh Eva Lukita

Begitu banyak kejadian kekerasan yang terjadi di dunia akhir-akhir ini, mulai dari peperangan, Paris attack, dan yang baru saja terjadi adalah serangan terror di beberapa lokasi di Jakarta. Sebagai orang tua, pastinya selalu ingin melindungi anak-anaknya agar tetap merasa aman.

Lalu bagaimana kita menjelaskan kejadian-kejadian tersebut kepada si kecil? Diambil dari artikel oleh Psikolog Ellen Hendriksen, PhD, Savvy Psychologist berikut ada 12 tips untuk berbicara dengan anak mengenai terorisme, serangan, dan kekerasan.

 

BALITA

Tip #1: Hindari anak menonton video dan berita viral terorisme dan kekerasan.

Selain banyak kejadian yang tidak pantas dilihat, pada saat anak menonton atau melihat gambar yang penuh terror mungkin hanya bereaksi diam atau terlihat biasa saja, namun bisa saja gambar atau video tersebut terekam di memori otaknya yang seperti spons dan menjadikannya trauma, ketakutan, hingga mimpi buruk. Matikan atau alihkan channel berita di televisi atau radio ketika ada si kecil agar tidak terlalu banyak terekspos berita kekerasan. Ikuti berita terupdate ketika si kecil tertidur atau sedang bermain di ruangan lain.

Tip #2: Ketika Anak Terlanjur sedang Menonton Berita mengenai terror di TV, Tetap TENANG.

Katakan dengan tenang, “Yuk, tv nya istirahat & dimatikan dulu” dan alihkan perhatiannya dengan menanyakan tentang topic lain seperti “Tadi di sekolah main apa saja?” sambil mengganti channel TV dengan channel kartun favorit anak. Jangan langsung merebut remote tv atau langsung menutup mata anak dengan panic dengan kata-kata “Ga boleh nonton ini” “Harusnya kamu gak nonton ini”. Hal tersebut malah membuat si kecil makin gelisah dan ketakutan.

Tip #3: Jika si Kecil Memainkan Peran Kejadian Teror, Ikut Bermain dengannya & Bantu Perbaiki Pengertiannya

Misalnya si kecil sedang bermain lego, atau menumpuk-numpuk bantal lalu tiba-tiba si kecil berteriak “BOM” lalu menghancurkan mainan-mainannya, ikutlah bermain dan katakan “Wah, saatnya memanggil polisi dan tukang bangunan, ayo bantu bangun kembali gedung-gedungnya” Bantu bangun kembali mainan-mainan yang dihancurkannya dan berikan pelukan dan berikan apresiasi ketika si kecil berhasil membangun kembali mainannya.

 

Anak Usia Sekolah Hingga Remaja

Tip #4: Tanyakan Kejadian dan Berita Apa yang Mereka Telah Dengar.  

Khususnya anak-anak yang sudah memiliki tab atau gadget sendiri dan memiliki banyak akses dengan social media, tanyakan apa yang telah mereka ketahui melalui social media.

*Jika dia bilang “Gpp atau Ga ada apa-apa” jangan paksa untuk berbicara. Tujuan kita adalah untuk menenangkan si kecil bukan menambah tekanan dan ketakutan. Jika saatnya sudah tenang, suatu saat dia akan berbicara juga.

*Jika mereka membicarakan apa yang mereka telah dengar seperti, “Tadi ada orang yang meninggal” Perhatikan cerita dan emosinya, dan perhatikan 3 poin yang tersirat dari cerita tersebut: apakah dia ketakutan, apakah ada salah persepsi, dan perhatikan pertanyaan-pertanyaannya, dan berikut cara menghadapi ketiga hal tersebut:

KETIKA ANAK MERASA KETAKUTAN

Tip #5: Ketika Anak Merasakan Ketakutan, PELUK dan Bantu Tenangkan Dia

Jangan menambah ketakutan anak dengan beraksi dramatis, tetap tenang ketika bereaksi terhadap cerita anak, namun tunjukan rasa simpati dan empati atas apa yang mereka ceritakan.

Juga jangan katakan, “jangan khawatir, atau tidak ada yang perlu dikhawatirkan”. Anak akan merasa perasaan takut mereka diabaikan, dan tidak dianggap penting oleh Mams & Paps, sehingga dia belajar tidak akan bercerita pada mams & paps jika merasa ketakutan.

Lebih baik katakan dengan perasaan simpati bahwa ia tidak sendirian, “banyak anak-anak, dan bahkan orang-orang dewasa teman Mama/Papa juga ketakutan” dan berikan sugesti “kita berdoa saja ya supaya cepat aman dan penjahatnya bisa tertangkap”

Tip #6: Tanggapi dengan Berita-Berita Penyelamatan

Tenangkan anak yang ketakutan dengan menceritakan, “banyak polisi dan petugas yang turun tangan menangkap penjahatnya” Juga ceritakan aksi-aksi heroik seperti “Tadi ada juga cerita bapak-bapak yang menolong ibu-ibu yang terluka langsung dibawa ke rumah sakit” atau “sekarang sudah ada pos-pos penampungan untuk korban”. Bahkan bisa ajak si kecil juga melakukan bantuan dan support seperti, “kamu punya pakaian dan buku yang masih bagus? Yuk kita kasih ke teman-teman yang menjadi korban terror”. Hal ini dapat menumbuhkan rasa kemanusiaan pada anak.

Tip #7: Jika Kejadiannya di Kota Lain atau Negara Lain, Perjelas Jaraknya pada Anak.  

Cara lain untuk menenangkan ketakutan adalah memperjelas jarak antara rumah dan kejadian teror. TV atau Gadget yang ada digenggamannya menjadikan anak-anak merasa dekat dengan kejadian tersebut, dan mungkin mereka sebenarnya tidak tahu kejadian sebenarnya terjadi dimana. Misalnya kejadian perang di Syria, jelaskan dengan menggunakan peta atau globe bahwa jarak rumah dengan tempat kejadian sangatlah jauh.

Tip #8: Ingatkan bahwa Banyak Orang Baik di Dunia

Tenangkan ketakutan anak dengan mengingatkan bahwa walaupun para penjahat teror menggunakan kekerasan, namun banyak sekali orang baik yang tidak setuju dengan perbuatan jahat. Ingatkan bahwa kekerasan bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah. Ceritakan cerita-cerita perbuatan orang baik dalam menyelesaikan masalah.

MEMPERBAIKI SALAH PERSEPSI PADA ANAK

Tip #9: Perbaiki Kesalahan Persepsi dengan Lembut.

Beberapa berita di media sering salah atau terkesan memprovokasi suatu golongan agama tertentu atau kelompok ras tertentu sebagai kambing hitam penjahat dalam kejadian kekerasan. Anak belum bisa mengerti dan menerima berita tersebut. Ajak anak membicarakannya  dengan lembut, dan jelaskan dengan netral, misalnya dengan menjelaskan: “Teroris adalah orang-orang yang menggunakan kekerasan dan membuat orang merasa ketakutan. Dan teroris bukanlah bagian dari golongan agama atau ras tertentu.” Dan sebutkan orang-orang yang baik dari golongan yang disebutkan agar anak dapat membuat perbandingan dan menganalisa sendiri masalahnya.

Tip #10: Koreksi Joke yang Kurang Pantas.

Kini anak-anak yang telah memiliki gadget sendiri telah banyak terekspos dengan video-video kekerasan yang tersebar di social media. Karena terlalu sering melihatnya bisa saja buat anak, kejadian mematikan dan menyakitkan adalah sesuatu yang biasa bahkan lucu. Misalnya melihat orang tertabrak kendaraan atau tertembak menurutnya adalah kejadian yang lucu. Jelaskan dan berikan gambaran, hal tersebut menyakitkan dan sangat buruk, coba tumbuhkan rasa empati dan simpatinya dengan menanyakan, “jika kamu yang mengalami hal tersebut, bagaimana rasanya? Sakit atau tidak enak?” 

MENJAWAB PERTANYAAN-PERTANYAAN ANAK

Tip #11: Dengarkan Seksama pertanyaan-pertanyaannya.

Jika anak merasa ketakutan, kemungkinan akan bertanya, “Mungkinkah terjadi disini?” atau “Rumah kita aman ga?” Daripada hanya menjawab “tidak” dan tidak membantu mereka merasa aman, katakan, “Banyak sekali orang-orang, aparat kepolisian, dan militer yang bekerja sangat keras dan menjaga tempat kita agar selalu aman.” Sebutkan aparat-aparat yang membantu, bahkan sebutkan satpam yang ada di komplek hingga pasukan khusus, dan lainnya. Jika anak-anak sudah lebih besar, cari tahu dan jelaskan secara detil, untuk anak-anak kecil, tidak perlu menyebutkan secara detil, bahkan Mams & Paps bisa mengambil contoh aksi heroik Ninja Turtles!

Tip #12: Bantu Mereka Melakukan Aksi Kemanusiaan.  

Anak yang lebih dewasa, yang sudah mengerti mengenai norma dan moral akan lebih concern dan menjadi pemikiran yang mengganggu mereka. Mereka akan sering bertanya, “Kok orang bisa jahat banget gitu?” “Kenapa orang-orang itu gak punya hati menyakiti orang lain?”. Bantu mereka mengatasi uneg-uneg mereka dengan mengajak melakukan aksi penyelamatan, misalnya yang telah disebutkan di poin sebelumnya, dengan mengajaknya menyumbangkan barang-barang atau sebagian uang jajannya untuk orang yang mengalami musibah tersebut. Untuk remaja usia 17 tahun bahkan sudah bisa diajak untuk membantu mendonorkan darah. Tumbuhkan rasa dan aksi kemanusiaan pada anak sejak dini.

 

 


Share Icon Facebook Twitter Pinterest
RELATED CONTENT