Si Kecil Kecanduan Gadget?

Share Icon Facebook Twitter Pinterest
976 views Sep 23, 2015
   

Si kecil mulai sering merengek meminta gadget? Atau tiba-tiba “mogok” makan jika tanpa bermain game favorit mereka di tab? Jika ya, sudah saatnya Mams Paps perlu mulai memperhatikan dan menyeimbangkan kegiatan si kecil dengan aktivitas lain selain “gadget”.

Kini, tidak jarang kita menemukan keluarga dengan anak-anak yang saat berkumpul lebih berfokus kepada gadget mereka masing-masing tanpa ada percakapan dan kontak mata. Setiap anggota keluarga terpaku terhadap gadget, entah sang ibu sedang chat atau melihat social media, sang ayah sibuk menonton tv, anak-anaknya pun tidak luput dari permainan dalam tab pribadi. Bahkan ketika makan malam keluarga, yang merupakan saat tepat untuk menghabiskan waktu berkualitas dengan mengobrol, kini telah menggeser makna dari “family time”.

 

Technology Tantrums
Sering sekali kita mendengar orang tua mengeluh, anak mereka tidak mau beraktivitas jika tanpa bermain games smartphone atau tablet, atau tidak mendengarkan orang tua atau siapapun berbicara ketika memainkan gadget mereka.

Kita hidup dalam era revolusi digital khususnya dalam 10 tahun ke belakang ini, terjadi peningkatan drastis pembelian dan penggunaan gadget, termasuk smartphon, tablet, game consoles, dan lainnya. Tentunya ini sangat berpengaruh dengan semakin mudahnya paparan teknologi terhadap anak-anak dimanapun mereka berada.

Sebagai orang tua, perlu waspada terhadap hal ini dan perlu menentukan batasan-batasan penggunaan gadget bagi anak untuk menghindari Technology Tantrum.

Berdasarkan laporan dan penelitian, technology tantrum ditandai dengan ekspresi anak-anak yang marah dan frustasi yang tidak terkontrol dan tiba-tiba ketika tablet ataupun gadget diambil dari mereka.

 

Menguntungkan atau Merugikan?
The American Academy of Pediatrics secara tegas menyatakan bahwa anak usia 0-2 tahun seharusnya tidak terpapar oleh teknologi sama sekali. Anak usia 3-5 tahun seharusnya dibatasi maksimal 1 jam sehari. Rata-rata kini anak usia 3-6 tahun menghabiskan waktu 3 jam sehari, dan bertambah menjadi 4 jam sehari ketika hari libur, termasuk menonton tv dan bermain video games. Anak dengan pengawasan minim dari orang tua dalam kesehariannya akan menghabiskan waktu lebih banyak dengan gadget mereka.

Usia 0 – 5 tahun merupakan masa-masa emas perkembangan pesat otak dan karakter dimana diperlukan rangsangan nyata untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi, kemampuan motorik, kemampuan berbicara, hingga menumbuhkan rasa empati di dalam diri anak. Dengan paparan teknologi terlalu sering dalam usia tersebut, anak akan kehilangan momen-momen berharga dalam kesempatan mengembangkan kemampuan mereka.

Di sisi baiknya, memang kini banyak aplikasi atau film yang menarik didesain khusus untuk membantu anak belajar dengan rangsangan visual dan audio yang menyenangkan, games puzzle untuk melatih anak berpikir untuk menyelesaikan masalah, membantu koodinasi tangan dan mata, hingga meningkatkan kemampuan kosakata mereka. Namun kita tidak mau bukan anak kita menjadi anak yang pintar namun dengan karakter yang kurang peka dan emosi yang kurang peka karena kurangnya interaksi sosial?

 

Talk to Me
Anak-anak kini sangat familiar dengan penggunaan gadget. Bahkan tidak jarang anak usia 2 tahun sudah mahir memainkan sebuah games mes dalam tab. Hal ini menjauhkan mereka dari interaksi dengan dunia nyata dalam mengembangkan kemampuan bersosialisasi dengan teman dan orang sekitar. Dalam proses bersosialisasi dengan teman dan orang sekitar, anak-anak belajar untuk menumbuhkan rasa empati serta cara mengungkapkan emosi yang tepat.

Penelitian para psikolog menunjukan bahwa kebanyakan anak yang menghabiskan banyak waktu dengan gadget mengalami keterlambatan kemampuan berbahasa dan bersosialisasi.


Digital Detox
Mulailah untuk mengatur jadwal kegiatan harian anak dirumah mulai dari bangun pagi hingga tidur malam hari. Memang hal ini terdengar sangat kaku namun memang sangat penting menuliskan jam-jam kegiatan anak dan konsisten mengikutinya. Batasi jam-jam penggunaan gadget max 1 jam dalam sehari termasuk bermain games dan menonton tv, perbanyak kegiatan fisik anak diluar rumah, misalnya dapat bermain di taman di sore hari atau untuk usia sekolah ikuti kegiatan ekskul yang melibatkan kegiatan fisik sehingga anak dapat bertemu dengan banyak teman baru sehingga dapat mengembangkan kemampuannya bersosialisasi selain mendapatkan manfaat secara fisik.

Jika Anda ibu yang bekerja, pastikan jadwal harian anak diserahkan pada pengasuh dan keluarga di rumah dan pantai kegiatan mereka dari kantor.

Tentu dalam era digital ini, gadget sama sekali tidak bisa dihindari secara sepenuhnya, kuncinya adalah pengawasan terhadap anak dan pastikan waktu penggunaannya.

Cobalah untuk memulai weekend yang berkualitas bersama dengan keluarga dengan penggunaan gadget anda seminim mungkin dan biarkan anak Anda menikmati waktu mereka bersama Anda.

Tidak jarang bukan kita melihat anak merengek minta perhatian pada ibu atau ayah yang sedang sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Anak Anda butuh perhatian! Jika bukan sekarang kapan lagi Anda mengisi masa-masa kanak-kanak mereka dengan kenangan menyenangkan?

Mungkin sebagai orang tua, Anda perlu mulai Digital Detox untuk diri sendiri sebagai contoh yang baik?

Sumber: www.therapysherapy.wordpress.com

Sonali Gupta is a clinical psychologist with a private practice and conducts workshops on parents and childrens emotional well-being. Read more at www.therapysherapy.wordpress.com.Follow her @guptasonali


Share Icon Facebook Twitter Pinterest
RELATED CONTENT